Cerpen
Di Atas Tanah yang Sama Karya : Yuni Nur Kholifah “Apa tekadmu sudah bulat, Nak ?” tanya sang ibu seusai sholat ashar. “Tekadku sudah bulat, Bu. Bagaimanapun hati ini sudah ada disana” melipat sajadah yang usai dipakainya. “Ibu ingin kamu tetap disini menemani ibu. Bersama ibu di desa ini. Tua bersama ibu, dan meninggal juga di desa ini” membelai wajah anaknya dengan penuh kasih sayang. “Tapi bu hatiku sudah ada disana berperang dengan beribu rakyat dan........” ucapannya terpotong saat ia mulai melihat titik demi titik air mata ibunya terjatuh. Siluet senja menjadi saksi harapan manis Usman. Rona merah senja mewakili hati Usman dan hati ibunya yang mengilu pada perang batin yang nyata. Entah kapan Usman dapat menjadi bagian dari mereka, merasakan sakit darah yang mengucur dan berjuang bersama kaki-kaki kecil yang malang diantara mencuatnya bom-bom nuklir kematian. ******** Lir ilir lir ilir Tandure wis sumi...